G A N J I L (end)

 


Pesawat kami tiba di bandara Supadio Pontianak, bertiga kami menaiki taxi menuju pusat kota Pontianak yang bermaskot Enggang Gading (Rhinoplax vigil) ini, sebenarnya aku ingin menginap semalam dulu disini, tapi mengingat waktu ku dan ayah tak banyak maka kami putuskan untuk lanjut ke pelabuhan speedboat Kapuas, kami punya waktu yang  cukup untuk sampai sebelum jadwal berangkat speed.

Ini pengalaman pertamaku menaiki speedboat, jantungku seperti melompat-lompat saat body speed menghantam riak air yang di timbulkan dari transportasi air lainnya. Aku tak bisa menahan teriakan-terikan setiap kali speed menikung tajam, ayah dan masha selalu tertawa melihat aksiku terkejut. Entah bagaiman penumpang yang lain bisa tidur dengan tenang di dalam speed ini. Masha mengambil air sungai Kapuas yang terciprat saat dilalui body speed dan membasuhkannya ke wajahku.

“kata orang Pontianak, yang minum air sungai Kapuas ini akan segera kembali kesini lagi” jelasnya yang kemudian dilanjutkannya dengan menyanyikan lagu Galaherang lalu dilanjutkan dengan potongan lagu Sungai Kapuas sambil berteriak. Ya, berteriak dan hanya aku yang mendengar, karna aku duduk disampingnya. Masha bersaing dengan suara dari 3 mesin luar speedboat bertenaga 200 HP, juga suara air yang terciprat.

Ooo sampan laju… sampan laju dari hilir sampai ke hulu

Sungai Kapuas, sungguh panjang dari dolok membelah kote

Hei… tak disangke, tak disangke dolok hutan menjadi kote

Ramai penduduknye, Pontianak name kotenye

Sungai Kapuas punye cerite, bile kite minom aek nye

Meskipun pegi jaoh kemane

Sunggoh susah nak melupakannye

Ooo… Kapuas…

Ooo… Kapuas…

 

Kami sampai di pelabuhan speedboat Sukadana yang terletak di kabupaten Kayong Utara, ternyata Ketapang dan Kayong Utara sebelumnya adalah satu wilayah pemerintahan sebelum pemekaran. sesampainya di pelabuhan Masha naik mobil travel yang memang selalu ada di jam speedboad tiba, untuk membawa penumpang yang mempunyai tujuan ke Ketapang atau ke Telok Batang. Kami berpisah disini, aku dimintanya berjanji untuk menghubunginya jika urusanku telah selesai.

“sebelum pulang ke Jakarta kau harus ke beberapa tempat bersejarah dulu Her. Seperti istana kerajaan Matan di Ketapang, Istana Kadariah di Pontianak , kalau perlu kita ke Daeng menambon di Mempawah.” Dengan antusias ia menjelaskannya.

Tentu saja aku tertarik. Apalagi saat ayah memotong pembicaraan seru kami “Iya … ide yang bagus tuh, sebelum menikah” goda ayah, yang disambut uwu uwu sama Masha. setelah berpamitan mobil travel yang dinaiki Masya segera berlalu, aku merasa kehilangan. Jam menunjukkan pukul 15.25 WIB. Sudah masuk waktu ashar. Ayah meminta sopir untuk berhenti sebentar di masjid, sebelum melanjutkan perjalanan, Kemudian aku dan ayah menaiki travel rute Telok Batang.

Dua jam perjalanan, akibat jalan yang rusak. Akhirnya kami tiba di kecamatan Telok Batang, ayah menunjukkan rumah dinas yang terletak disamping puskesmas, tempat ayah dan bunda tinggal dulu. Sopir travel mengantarkan kami ke desa bernama Masbangun. sekitar 30 menit perjalanan, Kata ayah di pertigaan berikutnya kami berhenti dan harus menaiki sepeda motor lagi untuk menuju dusun tua tempat keluarga ku berada. Jauh sekali, aku bersyukur ayah bersamaku saat ini.

Azan maghrib berkumandang, suasana di desa yang masih di dominasi pepohonan ini mulai terasa mencekam bagiku, tapi kata ayah kondisi sekarang sudah banyak perubahan. Aku kaget mendengar pembicaraan ayah bersama sopir travel tadi. Yang gelap dan sepi saat mulai magrib begini sudah dikatakan ada perkembangan dari sebelumnya, lalu bagaimana gambaran saat sebelum ini ya.

Aku dan ayah sampai di sebuah rumah yang sederhana. Setelah membayar upah ojek motor yang kami tumpangi, ayah mengatakan rumah itu adalah rumah nek alang Timah adik kakek ku tok Chaidir. dari cerita ayah selama di perjalanan tadi, ayah hanya mempunyai satu kontak yang bisa ayah hubungi untuk selalu memberitahu perkembanganku pada keluargaku disini, anak nek alang Timah yang juga paman ku (sepupu ayah kandungku Tama) malam dimana ayah menceritakan asal usulku, ayah baru saja selesai menghubunginya, ayah sempat kehilangan kontaknya karena nomornya lama tak aktif lagi dan baru malam itu ayah menerima telponnya lagi, dan darinya ayah baru tahu kalau kakekku telah meninggal dunia setahun yang lalu, ayah merasa bersalah karena tak segera menceritakan semuanya padaku.

Kakek sangat berjasa sekali dalam merawat kedua saudara ku setelah ayah Tama meninggal sebulan setelah ibuku Dayang meninggal. Dari cerita Ayah, beliau tak dapat menerima kejanggalan-kejanggalan atas kematian ibuku, dan beliau merasa sangat bersalah atas keputusannya meminta bantuan Mak Canggai si dukun beranak. Ayah menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi, setiap kali bunda dan ayah membawaku kepada ayah Tama, beliau akan menangis dan terpukul karna merasa bersalah pada diriku, ayah Tama akan pingsan setelah menangis jika melihat ku, hal itu lambat laun membuat tubuhnya lemah, mempertimbangkan itu semua kakek ku Chaidir meminta kerelaan bunda dan ayah untuk besedia merawatku, karna hampir dua pecan aku lahir bunda dan ayahlah yang merawatku saat dalam kondisi kritis.

Mengingat bunda tak lagi dapat melahirkan karena kangker rahim yang dideritanya, dan anak tunggal bunda dan ayah yang juga belum lama meninggal karena mengalami patent foramen ovale (PFO) yaitu lubang di jantung yang tidak tertutup sempurna yang dialaminya sejak lahir. Maka ayah dan bunda merasa sangat bahagia ketika kakek mengamanahkan beliau berdua untuk merawatku seperti anak sendiri.

Belum sempat ayah mengetuk pintu rumah yang sederhana itu, sosok wanita tua tampak dari balik pintu rumah dan ia langsung bertanya apakah ayah adalah dokter hendra, ayah mengiyakan pertanyaannya. Seketika suaranya parau kemudian ia menangis dan memeluk ayah. Dibelakangnya ada seorang lelaki yang seumuran ayah, aku yakin ia adalah paman Alif anak sulung nek alang Timah.

“assalamualaikum mak” salam ayah pada nek alang Timah.

“waalaikumsalam dokter” serak suaranya menjawab salam ayah setelah melepas pelukannya.

“masuklah dokter” paman Alif mempersilahkan kami.

“apa ini anak Dayang?” Tanya nek alang pada ayah, yang dibalas ayah dengan anggukan.

“Ya Allah, cantiknya cucuku. Kata pamanmu Alif kau seorang dokter juga?”. Tanyanya.

“iya nek” jawabku sambil menyalami dan mencium tangannya. Kemudian ia memelukku dan kembali menangis.

“mak, mereke nih habis dari jalan jaoh, leteh, udah dolok, suruh lah masuk dolok mak cucu mak tuh” kata paman Alif mengingatkan nek alang.

“aok.. benar kate kau lif” nek alang menyeka air mata harunya.

Selepas melaksanakan sholat isya yang aku dan ayah jamak sebelumnya dengan maghrib yang telah terlewat oleh kami, nek alang mengajak kami makan bersama. Beliau telah mempersiapkan masakan untuk menyambut kedatangan kami. Kata ayah masakkan istemewa ini hanya bisa ditemui jika ada kenduri. Yaitu umbut kelapa yang dimasak dengan santan bumbu rempah rendang merah. Untuk mendapatkan masakan umbut ini maka harus ada pohon kelapa yang ditebang dan pada pangkal daun kelapa, batang muda kelapa atau disebut juga umbut kelapa inilah yang diambil, satu umbut kelapa ini bisa untuk orang sekampung menikmatinya. Maka pantas jika ini dikatakan masakan istimewah.

 

“masyaallah lama tak menemui menu istimewa ini”, kata ayah yang sangat lahap menyantap masakan umbut kelapa. “kau harus mencobanya Her” seru ayah.

“iya ayah akan Her coba” kataku.

Kami melewati malam itu dengan penuh kehangatan, kerinduan nek alang pada ku dapat kurasakan. “siapa yang menyangka bayi yang tak berdaya itu kini duduk dihadapanku, dia sehat, anggun dan cantik. Kau benar-benar mirip dengan ibumu nak” nek alang tak henti-hentinya memuji ku, aku merasa tak enak sendiri dibuatnya.

“sudah mak alang, nanti gadis muda ini terbang dan tak dapat kita tangkap kakinya, karna ribuan pujian yang membuatnya melambung tinggi,” goda ayahku

“ah ayah. Nek alang kan rindu, makanya seperti itu” kataku dengan tenang.

“jadi dokter, ada yang tak kau ketahui tentang cerita Tama, selama sebulan setelah Dayang meninggal. Dia tak berhenti-hentinya mencari tau penyebab kejadian yang menimpa Dayang, sebelum menjemputmu malam itu ada satu orang yang tak terlihat dan menghilang dalam kamar itu. Suami mak canggai. Saat membersihkan rumahnya, Tama menemukan potongan dari tali ketuban yang tersangkut di jendela, dinding luar jendela itu penuh darah dan helaian rambut yang panjang berserakan. Sangat diluar akal. Hal-hal ganjil terus ditemukan Tama tapi sayang kami mengabaikan nya, karena kami berpikir Tama hanya belum bisa menerima dan ikhlas atas kematian Dayang istrinya, ditambah lagi dia yang terus-menerus menyalahkan diri atas apa yang menimpa Dayang.” Jelas paman Alif

“tak lama dari kejadian yang menimpa dayang, hal yang sama terulang beberapa kali, dan ada yang menyimpulkan kalau mak canggai dan suaminya adalah kaki tangan atau pengabdi Kuntilanak, dari cerita beberapa anak buah tok man yang berusaha mencari tau seperti apa mereka bekerja didalam bilik kamar, bahwa setiap kali akan menolong persalinan mak canggai akan dirasuki Kuntilanak, setelah berhasil mengeluarkan bayi dan mendapatkan tembuni, kuntilanak akan berpindah merasuki suami mak canggai kemudian ia lari membawa tembuni dan mengamankan diri agar tak ketahuan dan terlihat keluarga dari ibu yang melahirkan. Jika perempuan yang melahirkan itu mengetahui yang terjadi maka tak segan ia akan merentak (menarik dengan paksa) tembuni agar segera keluar, dan itu akan menyebabkan kematian pada sang ibu. Sedang mak Canggai tak merasa telah melakukannya, yang diingatnya hanya saat persalinan wajar saja di awal proses. ” tambah nek alang.

“Tapi ada juga cerita, bahwa setelah mendapatkan tembuni, mak canggai akan membuang ke kolong rumah, dan suaminya akan menangkapnya dari bawah kolong lalu pergi menjualnya pada orang yang senang mengumpulkan tembuni. Katanya akan dijadikan obat. Tembuni-tembuni itu harganya mahal.

“Yang aku heran orang kampong tak kenal jera, walau sudah mengetahui itu, tenaga/jasa mak canggai tetap digunakan, selama ibu yang melahirkan tidak melihat apa yang dilakukan mak canggai dan suaminya. Prosesnya akan cepat dan tak terasa sakit, toh bayi tidak akan dibahayakan. Yang diincar hanya tembuni saja.” Jelasnya lagi.

Ada juga yang menceritakan, Setelah keduanya meninggal barulah diketahui bahwa pasangan itu meyakini jika mereka makan plasenta maka mereka akan mendapatkan keturunan dan awet muda. Benar-benar bodoh sekali mereka.” Jelas paman Alif lagi.

Begitu banyak versi, aku yang mendengar kisah itu merasakan mual dan ngeri sekali, aku khawatir malam ini tak dapat tidur karena terbayang kisah yang mereka ceritakan, aku jadi teringat mimpi-mimpi yang terus berulang yang aku alami, aku berusaha untuk tak percaya pada hal lain penyebab kematian ibuku Dayang. Aku merasa cukup memahami dari segi medis yang telah diurai oleh bunda saja. Dan bagiku ibuku telah syahid.

Syukurnya ayah berhasil mengalihkan cerita, mungkin ayah menyadari apa yang kurasa. Ayah menanyakan saudara laki-lakiku yang kembar, dimana mereka saat ini, paman Alif menceritakan bahwa setelah menikah Tara pindah ke daerah asal istrinya, Tara pindah ke Kendawangan di Ketapang. Rama juga ikut abangnya untuk kerja di sawit setelah datok mereka meninggal.


Tamat...


Comments

Popular posts from this blog

Padang Dua Belas, Kota Ghaib nan Megah (bag.1)

G A N J I L (bag.4)