Padang Dua Belas, Kota Ghaib nan Megah (bag.1)




Begitu banyak versi penyebab kematian ibuku, mulai dari sepasang dukun beranak yang menjadi pengabdi kuntilanak, jual beli organ untuk kasus pesalinan yang sering gagal ini adalah Tembuni yang mempunyai nilai jual yang tinggi karena akan dijadikan obat-obatan, sampai kepercayaan bahwa tembuni akan menjadikan orang kembali subur dan awet muda.

aku yang mendengar kisah itu merasakan mual dan ngeri sekali, aku jadi teringat mimpi-mimpi yang terus berulang yang aku alami, aku berusaha untuk tak percaya pada hal lain yang menjadi penyebab kematian ibuku Dayang. Aku merasa cukup memahami dari segi medis yang telah diurai oleh bunda Ranima saja.

Bahwa ibuku mengalami tingkat ruptur perineum (robekan jalan rahim yang serius)  karna aku lahir dengan posisi  Breech birth yaitu posisi bayi sunsang, sehingga ibu mengalami komplikasi perdarahan yang parah. Dan bagiku yang mencoba ikhlas melepas amarah atas kesalahan dukun beranak yang menemaninya, semua itu menjadi jalan bagi ibu menuju syahid. Semoga Allah melapangkan dan kelak menempatkan ibuku Dayang disurga-Nya.

Syukurnya ayah berhasil mengalihkan cerita ibu yang disampaikan nenek dan paman ku, mungkin ayah menyadari apa yang kurasa. Ayah kemudian menanyakan saudara laki-lakiku yang kembar, dimana mereka saat ini,

paman Alif menceritakan bahwa setelah menikah Tara nama kakak sulung ku, ia pindah ke daerah asal istrinya, Tara pindah ke Kendawangan tepatnya di Kabupaten Ketapang. Rama adik kembar Tara kemudian juga ikut menyusul saudaranya untuk bekerja di sawit setelah datok Chaidir meninggal.

Mendengar hal itu, aku menyampaikan keinginan ku pada ayah, selagi kami sudah sampai disini akan lebih baik jika aku sekalian menemui mereka. Tanpa diduga Ayah pun setuju karena salah-satu diantara mereka akan ayah ajak untuk menjadi wali dalam pernikahan ku yang tak lama lagi akan dilangsungkan.

Paman Alif memberikan alamat dan sketsa jalan menuju rumah mereka. Paman Alif pernah sekali menemui mereka. Tapi paman tidak mengetahui nama dan alamat jelasnya. Dan paman Alif tidak memiliki nomor kontak mereka yang baru. Nomor kontak yang lama sudah tak lagi aktif.

 

~~~***~~~

 

Aku masih ingin berlama-lama di desa ini, disini asri, udaranya segar. Tapi ayah meminta maaf karna tak bisa berlama-lama, ayah menerima surel yang harusnya bisa diterimanya malam kemarin, tapi karna sinyal di daearah ini sangat lemah, maka surel itu baru beliau terima pagi ini. Sesuai jadwal, beberapa pasien ayah akan menjalani rangkaian operasi, dokter pengganti yang ayah amanahkan, mengalami kecelakaan, sehingga ayah harus segera pulang. Tapi ayah pun tak mau mengecewakan nek alang yang sedang gembira karna baru saja bisa menemui cucu kemanakan. Menurutnya dirinya bertuah, beruntung dapat menemui cucu yang berhasil memperjuangkan hidup. Dan ia ingin mengenalkan aku kepada seluruh warga desa.

Aku merasa beruntung begitu dicintai. Jadi kuputuskan untuk tinggal semalam lagi, untuk menenangkan ayah, kukatakan aku akan menghubungi Masha teman yang baru kukenali saat di pesawat, kebetulan ia sedang berada di Kendawangan saat ini, karena alasan pekerjaan dan Masha mengetahui banyak tempat di Kabupaten Ketapang. Ia akan membantu ku menemukan alamat kakak-kakak ku.

Ayah akan segera berangkat pagi itu, mengejar speedboad dari pelabuhan Telok Batang, jika terlambat akan sedikit repot menaiki speedboad sore yang akan berhenti di pelabuhan Rasau Kubu Raya, masalahnya tidak hanya disitu, rute sore ini biasanya lebih sering mengalami masalah, menghindari itu lebih baik ayah berangkat pagi, begitu saran dari paman Alif.

Kutangkap kebimbangan ayah sebelum ayah pulang ke Jakarta, kuyakinkan ayah kalau aku akan baik-baik saja. Kemudian ayah pun berangkat diantar oleh paman Alif menggunakan motor nya menuju pelabuhan Telok Batang.


bersambung ...

Comments

Popular posts from this blog

G A N J I L (bag.4)

G A N J I L (end)