Posts

Showing posts from October, 2021

Padang Dua Belas, Kota Ghaib nan Megah (tamat)

Image
  Selesai menutup pintu surau aku kemudian menuju mobil. Kasian Masha jika terbangun dan tak melihatku, nanti dia akan berpikir macam-macam lagi. Suasana disini sangat gelap sama seperti saat maghrib di Telok Batang saat pertama aku datang kesana bersama ayah, belum jauh aku melangkah seseorang memanggilku. “maaf mba, Assalamualaikum. bisakah engkau membantu istriku?” tanyanya “wa’alaikumsalam”, ternyata ia pria yang wajahnya bercahaya tadi. “apa yang bisa saya bantu pak?” tanyaku padanya. “sepertinya istri saya mau melahirkan, bisakah mba membantunya? Katanya lagi. “saya ada mobil, bagaimana kalau kita bawa kerumah sakit atau puskesmas terdekat, atau mungkin ada klinik bidan disini” tawarku padanya. “mari kerumah saya sebentar” ajaknya. Akupun mengikuti pria itu dari belakang, langkah kakinya cepat, ia sedang khawatir, aku berusaha menyusul nya agar tidak tertinggal jauh. Suasana disini yang tadi gelap kemudian kurasakan mulai sedikit terang. Berbelok kearah kanan, a...

Padang dua Belas, Kota Ghaib nan Megah (bag.3)

Image
  Disepanjang jalan Masha banyak bercerita tentang Kota Ketapang, salah satu ceritanya yang unik dan menarik bagiku adalah Saat Raja Dangdut Rhoma Irama memenuhi undangan tampil di Padang Dua Belas, dimasa itu Ketapang dan Kayong belum pemekaran, sekitar tahun 80 an. Dan untuk kedua kalinya diundang, Rhoma bercerita ke panitia penyelenggara, bahwa ia pernah diundang sebelumnya ke Ketapang juga, tempatnya bagus kotanya maju bahkan sangat megah, banyak gedung-gedung bertingkat dan mobil-mobil mewah disana, kota itu bahkan melebihi Jakarta. Seharusnya ibu kota Indonesia itu disana lebih cocok katanya, panitia yang mendengarkan penuturan Rhoma bertanya dimana beliau di undang untuk tampil, yang iya tau konser Rhoma yang dikelolanya saat ini adalah konser dangdut perdana Rhoma di Kota Ketapang. Dengan cepat Rhoma menjawab Padang Dua Belas. Sempat merasa tak percaya, Masha menyuruhku untuk membuka dan mencari infonya di google, ketika kucoba tak satupun laman yang menjelaskannya bi...

Padang dua Belas, Kota Megan yang Ghaib (bag.2)

Image
Padang Dua Belas kab Ketapang Kalimantan Barat   Kusampaikan niatku pada Masha melewati ponsel, semoga ia tak keberatan untuk menemaniku ke Kendawangan,   ternyata ia masih di Kampung Kaum , daerah para Syarif-syarif dan keturunan para raja, di Ketapang. Pukul 14.14 aku sampai di Nevada Hotel, berbeda dengan Kayong Utara, Ketapang jauh lebih Ramai dan agak padat pemukimannya. Sayangnya sungai Pawan yang indah tidak dikelola dengan baik seperti Kapuas di Pontianak, Sungai Pawan dipenuhi Bangunan-bangunan tinggi yang sengaja dibuat oleh penangkar burung wallet, agar burung wallet bersedia tinggal dan membuat sarang-sarang di dalam bangunan. Sarang-sarang itu dibuat oleh burung wallet dengan air liurnya yang berharga. Aku sebenarnya lelah, perjalanan dari Telok Batang yang rusak ternyata tidak separah jalan Sukadana menuju Ketapang, tepat di wilayah Taman Nasional Gunung Palung kerusakan jalan jauh lebih parah dari sebelumnya. Aku harus berpegangan erat agar tidak menggese...

Padang Dua Belas, Kota Ghaib nan Megah (bag.1)

Image
Begitu banyak versi penyebab kematian ibuku, mulai dari sepasang dukun beranak yang menjadi pengabdi kuntilanak, jual beli organ untuk kasus pesalinan yang sering gagal ini adalah Tembuni yang mempunyai nilai jual yang tinggi karena akan dijadikan obat-obatan, sampai kepercayaan bahwa tembuni akan menjadikan orang kembali subur dan awet muda. aku yang mendengar kisah itu merasakan mual dan ngeri sekali, aku jadi teringat mimpi-mimpi yang terus berulang yang aku alami, aku berusaha untuk tak percaya pada hal lain yang menjadi penyebab kematian ibuku Dayang. Aku merasa cukup memahami dari segi medis yang telah diurai oleh bunda Ranima saja. Bahwa ibuku mengalami tingkat ruptur perineum ( robekan jalan rahim yang serius )  karna aku lahir dengan posisi  Breech birth yaitu posisi bayi sunsang , sehingga ibu mengalami komplikasi perdarahan yang parah. Dan bagiku yang mencoba ikhlas melepas amarah atas kesalahan dukun beranak yang menemaninya, semua itu menjadi jalan bagi ibu ...

G A N J I L (end)

  Pesawat kami tiba di bandara Supadio Pontianak, bertiga kami menaiki taxi menuju pusat kota Pontianak yang bermaskot Enggang Gading ( Rhinoplax vigil) ini, sebenarnya aku ingin menginap semalam dulu disini, tapi mengingat waktu ku dan ayah tak banyak maka kami putuskan untuk lanjut ke pelabuhan speedboat Kapuas, kami punya waktu yang   cukup untuk sampai sebelum jadwal berangkat speed. Ini pengalaman pertamaku menaiki speedboat, jantungku seperti melompat-lompat saat body speed menghantam riak air yang di timbulkan dari transportasi air lainnya. Aku tak bisa menahan teriakan-terikan setiap kali speed menikung tajam, ayah dan masha selalu tertawa melihat aksiku terkejut. Entah bagaiman penumpang yang lain bisa tidur dengan tenang di dalam speed ini. Masha mengambil air sungai Kapuas yang terciprat saat dilalui body speed dan membasuhkannya ke wajahku. “kata orang Pontianak, yang minum air sungai Kapuas ini akan segera kembali kesini lagi” jelasnya yang kemudian dilanjut...

G A N J I L (bag.6)

    “Dayang dan Tama, mereka berdua adalah orangtua kandungmu sayang” Kata-kata ayah masih jeles terdengar ditelingaku, berulang seperti gema yang seirama dengan detak jantungku yang melaju. Aku ternyata adalah bayi yang malang malam itu, dengan sentuhan dan pelukan penuh cinta dibawah guyuran dari hujan kasih sayang, aku selamat dan dibesarkan dengan sangat baik. Aku adalah bayi mungil yang beruntung itu, aku jelas penasaran dengan apa yang terjadi pada ibu kandungku, ayah tak mau bercerita terlalu banyak, karna untuk menyampaian kenyataan yang ada sudah cukup membuat hati dan pikiran ayah lelah luar biasa. Ayah menyadari, cepat atau lambat pasti harus menyampaikan hal ini padaku, dan hari itu tiba karna alasan pernikahan ku. Ayah pastinya tak mau aku kaget jika nanti saat ijab qabul nama binti itu berujung dengan nama Tama, Ayah kandungku. Aku semakin mencintai ayah dan bunda, jika bukan mereka yang mengambilku entah jadi apa aku hari ini. Dari bunda aku mendapat...

G A N J I L (bag. 5)

    Profesi yang mereka pilih menuntut mereka untuk bisa sigap menghadapi kondisi-kondisi sulit ketika berada di daerah yang terpencil seperti di Paret Pelang salah satu desa yang ada di Telok Batang. Sesampainya di rumah Tama, sudah banyak warga yang berkumpul, di dalam rumah terjadi keributan selain suara tangis juga ada teriakan amarah seseorang, Tama kenal suara itu, adalah Usman sering dipanggil Tok Man oleh anak-anak Tama, pria yang terkenal tempramen ini memang membenci hal-hal mistik meski ia sendiri juga seorang dukun yang cukup terkenal mampu mengobati orang yang sakit atau mampu mengakhiri masa lajang bujang dan dare tua dengan jampi-jampinya. “ Pembulak kau! (pembohong) kau usah nak ngelak (menghindar), dukon beranak palsu !!! pembunoh !!!, kau apekan anak kemanak akuuu !!! sampai habes isi perotnye ilang?”. Jangan kau nak merampot isi perotnye dimakan antu Kuntilanak! Kau kuntilanak nye, mengaku kau!”.   teriak amarah tok man, tubuhnya ditahan be...

G A N J I L (bag.4)

  “Tama… kuatkan dirimu nak, ayo lakukan sesuatu, setidaknya masih ada satu nyawa lagi yang harus segera kita selamatkan” pinta tok chaidir, ayah mertuanya. Tama tersadar dengan perkataan ayah mertuanya, ia segera merapikan letak tubuh istrinya, Dayang. Ditatapnya sebentar wajah istrinya dengan air mata yang kembali mengembang, ia siap menutupi wajah dayang dengan kain batik panjang yang disiapkannya untuk persalinan dayang sebelum ini. “Ayah bagaimana dengan anakku ayah? Apa dia masih bernafas?” Tanya nya pada Tok Chaidir. “dia lemah Tama. Cepat kau panggil orang untuk membantuku membersihkan bayi ini, tali pusatnya bahkan masih meliliti lehernya, cucuku yang malang” air mata tok Chairil mengembang menatap bayi yang masih bersimbah darah itu. “iya ayah, titip bayiku ayah” sebelum keluar dari kamar, ekor mata tama menangkap jejak darah yang berakhir dijendela, dilihatnya lagi tubuh mak canggai yang masih tergeletak dilantai rumah panggungnya. Ia memutuskan untuk segera m...

G A N J I L (bag.3)

Image
  Masih terekam dengan baik dan jelas panggilan namaku pada Acara Angkat Sumpah dan Pelepasan para lulusan FKUI pada dua bulan lalu, rasanya luar biasa. Dan aku benar-benar bahagia. “dr. Hera Dayang Tama, Sp.A” sebagai lulusan terbaik Program Spesialis. Allah benar-benar baik padaku, karena memberikan orangtua yang sangat mendukung dan tak pernah lelah mengarahkan dan mengingatkan tujuan dan cita-citaku. Dan sekarang disinilah aku RSIA Bunda Jakarta, rumah sakit yang tergabung di dalam RS Bunda Group ini memiliki beberapa poliklinik yang focus pada kesehatan ibu dan anak. Aku benar-benar mencintai profesiku. Jika pagi hingga sore aku disini maka malam adalah bagian ku untuk bergabung bersama dua super hero ku di klinik. Bunda kadang bertanya kenapa aku tidak menerima tawaran di rumah sakit yang sama dengan Radith dan Ayah. Hadeh… bukan aku tak mau, jujur sudah nyaman sebenarnya dengan lingkungan rumah sakit itu. Tapi aku ini wanita biasa, sepandai-pandainya aku menjaga hati...

G A N J I L (bag. 2)

Image
Sudah sebulan sejak mas Radith menyampaikan niatnya ke ayah untuk melamarku, ayah terlihat sedih. Jika kutanya kenapa, maka beliau hanya menjawab dengan senyum dan mata yang sendu lalu berkata “tidak apa-apa sayang”. Ayah tidak pernah pintar berbohong. Itu karena beliau orang yang baik, sosok ayah yang sempurna. Ayah tidak bisa berkata tidak, jika ada pasien yang datang padanya dan meminta bantuannya meski ayah sedang lelah. Ayah selalu menjagaku, ayah akan berusaha memenuhi janjinya mengajakku berjalan-jalan disore hari saat ayah pulang dari Rumah Sakit meski ayah lelah, jika tak terpenuhi olehnya maka wajahnya akan terlihat bersedih dan merasa bersalah, ayah selalu ada setiap kali aku memiliki masalah, bahkan ayah tau sudah berapa kali aku menolak lamaran mas Radith, bukan aku membeci pria baik itu, tapi aku merasa belum melakukan hal baik untuk Ayah dan Bunda, aku ingin membahagiakan mereka terlebih dahulu.   Teman-teman kuliahku dulu selalu merasa iri dengan bagaimana ...