G A N J I L (bag.6)

 


 

“Dayang dan Tama, mereka berdua adalah orangtua kandungmu sayang”

Kata-kata ayah masih jeles terdengar ditelingaku, berulang seperti gema yang seirama dengan detak jantungku yang melaju. Aku ternyata adalah bayi yang malang malam itu, dengan sentuhan dan pelukan penuh cinta dibawah guyuran dari hujan kasih sayang, aku selamat dan dibesarkan dengan sangat baik.

Aku adalah bayi mungil yang beruntung itu, aku jelas penasaran dengan apa yang terjadi pada ibu kandungku, ayah tak mau bercerita terlalu banyak, karna untuk menyampaian kenyataan yang ada sudah cukup membuat hati dan pikiran ayah lelah luar biasa.

Ayah menyadari, cepat atau lambat pasti harus menyampaikan hal ini padaku, dan hari itu tiba karna alasan pernikahan ku. Ayah pastinya tak mau aku kaget jika nanti saat ijab qabul nama binti itu berujung dengan nama Tama, Ayah kandungku.

Aku semakin mencintai ayah dan bunda, jika bukan mereka yang mengambilku entah jadi apa aku hari ini. Dari bunda aku mendapatkan sedikit cerita, dari kacamata medis bunda tentang kematian ibu ku, tapi untuk hal lainnya bunda juga sama hal nya dengan ayah. Tepatnya beliau berdua tak sanggup untuk menceritakan apa yang terjadi secara rinci.

Celakanya, mungkin karena kepikiran dan juga masih terkejut dengan kenyataan siapa diriku, sudah tiga malam ini aku terus bermimpi hal yang sama. Ya, mimpi hal yang menyeramkan. Aku melihat sosok lelaki yang sedang berjongkok menghadap kearah pohon besar, ia seperti menggigil kesakitan. saat aku mendekat, ia tiba-tiba berbalik dan menggertak ku dengan kasar, mulutnya dipenuhi sesuatu yang masih mengalir darahnya, seperti daging mentah, amis, kembali ia mencabik sesuatu yang di genggam oleh tangannya, aku mulai mengenali apa yang dimakannya, plasenta. Aku berlari selaju yang ku mampu dan yang semakin membuatku takut suara tawa itu, menggelikan sekaligus menakutkan, dan aku menabrak sebuah pohon besar, akar gantungnya melilit kaki.

Aku jatuh dan tersadar berada dilantai kamar, kakiku tersangkut selimut yang entah bagaimana bisa terlilit dikakiku. Kurasakan badanku remuk saat bangun tidur. Aku merasa lelah. Seingatku aku sudah membaca doa sebelum tidur. Lalu bagaimana aku bisa bermimpi buruk. 

~~~***~~~

“Ayah bunda, bolehkah aku meminta tolong  dan izin”, pintaku berhati-hati saat kami sarapan.

“apa itu nak?” Tanya ayah setelah menyelesaikan suapan nasi gorengnya.

“ayah bunda bolehkah Her ke Kalimantan?” Mendengar perkataan ku membuat bunda segera menyambar gelasnya yang berisi air mineral yang masih penuh, bunda sedang mengantisipasi agar tidak tersedak dan ayah menghentikan kunyahannya. Kusambung perkataanku “ sebentar saja, setidaknya Her ingin melihat kedua saudara kembar Laki-laki Her. Sekali saja”. Aku pasrah jika ayah dan bunda menolak, aku akan menuruti apapun perkataan mereka setelah ini, karena aku tak ingin permintaan ini menyakiti mereka. Aku masih menunggu reaksi lanjut dari ayah dan bunda. Aku yakin mereka sedang berdiskusi denga bahasa isyarat yang hanya mereka berdua yang tahu.

“bagaimana dengan rumah sakit?” Tanya bunda.

“Her akan minta izin sepekan saja.” Jawabku. “hanya sebentar kok bunda”.

“Kau ingin ayah menemanimu nak?” Tanya ayah.

“Her pastinya senang jika ayah temani, tapi ayah pasti sibuk di rumah sakit.”

“lalu apa kau tidak sibuk juga?” Tanya ayah lagi. 

“Hera, kau belum pernah ke Kalimantan nak” jelas bunda. Atau kau mau dr. Radith menemanimu? Tanya bunda lagi

“oh tidak, tidak bunda”. Tolak ku tegas, yang benar saja berjalan berdua dengannya. belum mahrom ini. Jangan-jangan bunda ngetes nih.

“kau yakin tidak mau Her? Tapi rona pipimu berkata lain” aku mulai sadar bunda sedang menggodaku.

 

~~~***~~~

 

Mengamati lekukan sungai bak ular yang sedang tidur, itu yang terlihat dari atas pulau ini. Kalimantan. Entah bagaimana ayah dan bunda bisa bersamaan ditugaskan disini. Aku berhasil berangkat, walau tidak sesuai rencana karena ayah tetap ngotot ingin menemaniku.

“Assalamu’alaikum, baru pertama ke Kalimantan ya” seorang gadis berparas cantik yang duduk disamping kaca jendela menyapaku sambil mengulurkan tangannya.

“wa’alaikumussalam, iya ini yang pertama. Hera…namaku Hera.”kusambut tangannya.

“aku Masha, tanpa R ditengah, kau darimana Hera? Tanya Masha

“aku Jakarta Selatan, kamu? balas ku

“aku asli Bandung, itu ayah mu ya? Ke Kalimantan bekerja atau ada kegiatan saja?”

“Iya, beliau ayah ku” sambil kulirik ayah yang sedang tertidur, semalam ada dua operasi yang diselesaikan olehnya. “ tidak… aku hanya mengunjungi keluarga saja di Kalimantan. Kalau kamu sha? Tanyaku lagi.

“aku sedang apa ya.., dikatakan bekerja mungkin bisa, jalan-jalan juga bisa. Aku sedang mengerjakan tugas kearifan local masyarakat melayu di Kalimantan, ini sudah yang ke tiga kali aku kesini. Kali ini aku mau ke Ketapang. Kabupaten dengan Lahan sawit terluas dari beberapa anak perusahaannya.” Jelasnya

“tujuan yang sama. Aku kebetulan juga mau kesana Sha”. aku merasa senang memiliki kenalan dalam perjalanan yang kebetulan, sama tujuannya.


Comments

Popular posts from this blog

Padang Dua Belas, Kota Ghaib nan Megah (bag.1)

G A N J I L (bag.4)

G A N J I L (end)