G A N J I L (bag. 5)
Profesi yang mereka pilih
menuntut mereka untuk bisa sigap menghadapi kondisi-kondisi sulit ketika berada
di daerah yang terpencil seperti di Paret Pelang salah satu desa yang ada di
Telok Batang.
Sesampainya di rumah Tama,
sudah banyak warga yang berkumpul, di dalam rumah terjadi keributan selain
suara tangis juga ada teriakan amarah seseorang, Tama kenal suara itu, adalah Usman
sering dipanggil Tok Man oleh
anak-anak Tama, pria yang terkenal tempramen ini memang membenci hal-hal mistik
meski ia sendiri juga seorang dukun yang cukup terkenal mampu mengobati orang
yang sakit atau mampu mengakhiri masa lajang bujang dan dare tua dengan jampi-jampinya.
“Pembulak kau! (pembohong) kau usah
nak ngelak (menghindar), dukon beranak palsu !!! pembunoh !!!, kau apekan
anak kemanak akuuu !!! sampai habes isi perotnye ilang?”. Jangan kau nak
merampot isi perotnye dimakan antu Kuntilanak! Kau kuntilanak nye, mengaku kau!”.
teriak amarah tok man, tubuhnya ditahan beberapa lelaki agar tinjunya tak dapat
lepas mengenai mak Canggai yang terduduk ketakutan menghadapi amarah tok man, sepupu ayah mertua Tama.
Tama masuk kerumah
panggungnya disertai bidan Ranima dan dokter Hendra. Melihat kedatangan mereka beberapa orang berusaha
menarik tok Man keluar dan menenangkannya. Memberi ruang Tama dan bidan Ranima
juga dokter Hendra untuk masuk kedalam rumah yang kecil itu.
Bidan Ranima segera menangani
bayi Dayang. Bayi kecil itu telah dibersihkan dan di bedung agar tubuhnya tetap
hangat. Sementara dokter Hendra meminta izin untuk memeriksa mayat Dayang atas
permintaan keluarganya,
Di kamar, ada tok Chaidir
yang masih setia menunggui Dayang, ia sengaja menolak mayat dayang dibersihkan.
Ia mau hanya Tama, alang Timah adiknya, dirinya dan dokter Hendra saja nanti
yang membersihkan Dayang. Ia tak mau kondisi dayang jadi perbincangan di
masyarakatnya, cukuplah kematiannya saja yang mereka ketahui jangan kondisi
jasadnya.
Dokter Hendra sangat
terkejut dengan kondisi mayat Dayang, tapi segera ia sembunyikan rasa
terkejutnya itu. Bagaimana tidak, teriakan tok man tentang isi perut yang
hilang itu memang benar dilihat dari keadaan perut Dayang yang seharusnya tak
langsung mengempis drastis walau bayinya telah keluar. Kulit perut yang rata
menyentuh tulang punggung menyebabkan tulang rusuknya tercetak jelas, terdapat
beberapa garis lebam pada paha bagian dalam, juga bekas seperti gigitan.
Dokter Hendra segera
memanggil istrinya, bidan Ranima masuk sambil menggendong bayi Tama dan Dayang
ia sudah selesai memberikan penanganan pertama yang sifatnya sementara pada
bayi itu. Diserahkannya bayi itu pada mak Lang Timah. Kemudian mendekati
suaminya.
Setelah menjelaskan
penemuannya dengan setengah berbisik pada istrinya, bidan Ranima mendekati
mayat Dayang dibalik kain batik panjang yang dipasang Tama dan suaminya, bidan
Ranima mencoba memeriksa jalan lahir bayi pada tubuh bagian bawah Dayang, jika
ada tingkat diatas tingkat 4 ruptur
perineum, maka saat ini dayang mengalaminya, robekan jalan Rahim yang
serius, dan karena itu ia juga mengalami komplikasi yang sangat ditakuti yaitu
perdarahan post partum. Perdarahan ini
bisa jadi menjadi factor kematian Dayang setelah melahirkan. Bidan Ranima
mencukupkan dulu pemeriksaannya, dari segi medis itulah yang bisa ia simpulkan
sementara, kondisi ini cukup tepat dengan kondisi bayi Dayang yang mengalami asfiksia perinatal, bayi itu tidak
mendapatkan oksigen yang cukup selama proses persalinan, Ranima yakin bayi
Dayang keluar dalam posisi Breech birth
yaitu posisi bayi sunsang.
Tapi hal lain yang belum
dapat di simpulkan bidan Ranima setelah ia melakukan internal examination hingga ke leher Rahim Dayang, bahkan ia
mencoba memeriksa lebih dalam, bagaimana isi perut dayang bisa kosong seperti
itu. Ia merasa heran. Tapi ia tak mau berlama-lama disini, ada bayi yang harus
segera ditangani dengan serius. Walau bukan asfiksia
berat, tapi kondisi selama perjalanan jauh mungkin bisa menimbulkan resiko
lainnya pada bayi Dayang. Ia harus segera mendapatkan bantuan oksigen, agar
pernafasannya stabil.
Segera ia undur diri dan
mengajak dokter Hendra untuk ikut serta, untuk membantunya menangani bayi
Dayang. Tama mengerti dan mempersilahkan sepasang suami istri itu untuk pulang
agar dapat menangani bayinya.
Bersambung …
Comments
Post a Comment