Padang dua Belas, Kota Ghaib nan Megah (bag.3)
Disepanjang jalan Masha
banyak bercerita tentang Kota Ketapang, salah satu ceritanya yang unik dan
menarik bagiku adalah Saat Raja Dangdut Rhoma Irama memenuhi undangan tampil di
Padang Dua Belas, dimasa itu Ketapang dan Kayong belum pemekaran, sekitar tahun
80 an.
Dan untuk kedua kalinya
diundang, Rhoma bercerita ke panitia penyelenggara, bahwa ia pernah diundang
sebelumnya ke Ketapang juga, tempatnya bagus kotanya maju bahkan sangat megah,
banyak gedung-gedung bertingkat dan mobil-mobil mewah disana, kota itu bahkan
melebihi Jakarta. Seharusnya ibu kota Indonesia itu disana lebih cocok katanya,
panitia yang mendengarkan penuturan Rhoma bertanya dimana beliau di undang
untuk tampil, yang iya tau konser Rhoma yang dikelolanya saat ini adalah konser
dangdut perdana Rhoma di Kota Ketapang. Dengan cepat Rhoma menjawab Padang Dua Belas.
Sempat merasa tak percaya,
Masha menyuruhku untuk membuka dan mencari infonya di google, ketika kucoba tak
satupun laman yang menjelaskannya bisa terbuka, kucoba menari info lain diluar
itu karna kupikir sinyal, tapi malah dengan mudah terbuka. Kucoba lagi untuk
membuka lamannya, hasilnya sama laman tidak mau terbuka.
Orang limun atau biasa juga
dikenal sebagai bangsa orang kebenaran yang sudah hidup ratusan tahun di padang
dua belas, biasa juga berinteraksi dengan manusia. Bahkan kisahnya beberapa
penduduk pernah menerima alat transaksi mereka, berupa kunyit yang kemudian
berubah menjadi emas.
Waktu menunjukkan pukul
17.49 perjalanan kami masih setengah jalan lagi, lamanya… aku mulai mengantuk,
Masha mungkin melihat ku menguap berkali-kali.
“mau giliran Her,” tawarnya.
“berapa lama lagi, kita bisa
sampai Sha, kamu yakin jalannya benar, kita nggak nyasarkan, ini udah mau
magrib nih” tanyaku.
“iya benar, cm ada satu
jalan Her untuk menuju kesana, udah sini kamu istirahat, biar aku yang setir” kata
Masha meyakinkan.
“Kita cari tempat untuk
sholat dulu, setelah sholat baru lanjut lagi” pinta ku yang di oke kan olehnya.
Masha mengecek ponselnya, tak
ada sinyal disini katanya. Jalan raya ini benar-benar sepi, dikanan dan kiri
jalan tak ada bangunan satu pun, matahari pamit, pendar terangnya mulai
berganti gelap. Dikejauhan kulihat bangunan kecil, mungkin surau. Itu yang
kupikirkan.
Benar saja ternyata itu
surau, ada beberapa orang yang ikut sholat berjamaah, dalam hati aku bersyukur,
ternyata kami mulai memasuki wilayah berpenduduk lagi. Kulirik Masha untuk
mengajaknya turun. Tapi dia malah tidur, rasanya belum lama ia berkata tak ada sinyal
di ponselnya.
“Sha…bangun, maghrib, yuk
sholat ada surau tuh. Sekalian kita nyegarkan diri dulu. Penat nih seharian
dalam mobil.” Ajakku, tapi yang diajak tak berkutik, kucoba bangunkan lagi dia.
Ayo Sha bangun”. Ajakku lagi sambil menepuk pipinya. Ia menggumam, dan
mengatakan berhalangan.
Aku turun dari mobil yang
tak kumatikan mesinnya agar Ac mobil tetap menyala untuk Masha. Aku masuk ke
surau yang sederhana itu, ada sekitar tujuh orang di barisan depan, da nada seorang
wanita dibelakang, bergegas aku berwudhu kemudian masbuk untuk mendapat pahala sholat
berjamaah. Selesai salam kulihat beberapa pria di barisan depan tadi keluar meninggalkan
surau tinggal dua orang didepan sana yang masih berdzikir. Wanita disampingku
juga mulai beranjak dari duduknya, ternyata dia sedang hamil besar. Ia menyalamiku
sambil tersenyum, wajahnya cantik putih bersih dengan rona di pipi yang natural
bukan karna riasan wajah.
“Afwan jiddan ukh,
barakallah” bisiknya setelah menyalamiku, aku pun balas mendoakannya ia kemudian
berlalu menyusul suaminya yang mengangguk hormat padaku, aku sempat takjub
melihat wajahnya yang seperti bercahaya, lalu membalas anggukkannya. kemudian
mereka pergi, aku segera melipat kembali mukena surau yang kupinjam untuk
sholat tadi. Lalu merapikannya di lemari kecil yang terletak di sudut surau. Sebelum
keluar kurapikan jilbab segi empat supernova ku yang mulai beraroma, karena sudah
seharian aku menggunakannya.
Tak kusangka aku orang
terakhir disurau kecil itu, setelah keluar dari ruang surau kurapatkan pintu,
menghindari binatang masuk kedalamnya. Lalu aku menuju mobil. Suasana disini
sangat gelap sama seperti saat maghrib di Telok Batang kemarin, Belum jauh aku
melangkah seseorang memanggilku.
Bersambung…
Comments
Post a Comment