Padang Dua Belas, Kota Ghaib nan Megah (tamat)


 

Selesai menutup pintu surau aku kemudian menuju mobil. Kasian Masha jika terbangun dan tak melihatku, nanti dia akan berpikir macam-macam lagi. Suasana disini sangat gelap sama seperti saat maghrib di Telok Batang saat pertama aku datang kesana bersama ayah, belum jauh aku melangkah seseorang memanggilku.

“maaf mba, Assalamualaikum. bisakah engkau membantu istriku?” tanyanya

“wa’alaikumsalam”, ternyata ia pria yang wajahnya bercahaya tadi. “apa yang bisa saya bantu pak?” tanyaku padanya.

“sepertinya istri saya mau melahirkan, bisakah mba membantunya? Katanya lagi.

“saya ada mobil, bagaimana kalau kita bawa kerumah sakit atau puskesmas terdekat, atau mungkin ada klinik bidan disini” tawarku padanya.

“mari kerumah saya sebentar” ajaknya.

Akupun mengikuti pria itu dari belakang, langkah kakinya cepat, ia sedang khawatir, aku berusaha menyusul nya agar tidak tertinggal jauh. Suasana disini yang tadi gelap kemudian kurasakan mulai sedikit terang. Berbelok kearah kanan, aku mulai berjalan dijalan beraspal. Sesekali pria didepan ku yang mengenakan baju koko dan sarung itu melihat ku kearah belakang iya seperti ingin memastikan apakah aku tidak tertinggal. Aku sampai dipekarangan belakang rumah yang tampak minimalis, ternyata jalan yang kulalui tadi adalah jalan memotong. Sepertinya jalan ini memang disiapkan oleh yang punya rumah untuk bisa menuju ke surau agar lebih cepat.

“silahkan masuk mba” pria itu mempersilahkanku masuk.

Setelah mengucapkan salam aku masuk dari arah dapur, sekilas kulirik tata ruang dapurnya yang rapi dan bernuansa putih bersih , aku lanjut mengikuti pria itu sampai di sebuah ruangan. Ia membuka pintu sambil mengucapkan salam, ada seorang wanita yang terbaring menahan sakit menjawab salamnya. Ternyata ia wanita bergamis putih dengan pipi kemerahan di surau tadi. Ia berusaha tersenyum padaku sambil menahan perutnya yang mulas. Aku mendekatinya.

“apa sudah sampai pada HPL nya mba” tanyaku yang dibalas anggukan olehnya. Aku memeriksa denyut nadi pada tangannya, kemudian meminta izin untuk membersihkan tanganku terlebih dahulu, syukurnya aku biasa membantu bunda menghadapi pasien yang akan melahirkan. Pria itu mengarahkan ku menuju kamar mandi yang ada dikamar yang serba putih ini,  Aku kemudian berpesan kepada pria itu untuk membawakan sebaskom air hangat dan beberapa handuk atau kain bersih, penjepit dan gunting yang disterilkan . Kemudian ia berlalu.

Aku meminta maaf pada wanita berpipi kemerahan ini sebelum mulai melakukan internal examination yaitu pemeriksaan tingkat pembukaan pada mulut rahimnya. Aku tak punya perlengkapan apapun, jika pembukaan jalan lahirnya masih sedikit maka aku akan menyarankan pria itu untuk membawa istrinya ke klinik terdekat. Aku mulai mengarahkan posisinya berbaring, setelah kuperiksa aku terkejut pembukaannya bahkan hampir sempurna, pantas saja ia merasakan sakit yang mulai sering. Aku sedikit bingung dengan pikiranku, tapi aku kembali focus, aku harus bisa bertindak maksimal dengan keterbatasan yang ada.

Aku memintanya untuk tidak mengejan jika belum kuarahkan, mengambil nafas dari hidung dan menghembuskannya lewat mulut secara perlahan, dan usahakan untuk tidak mengangkat panggul saat tiba rasa ingin mengejan, untuk menghindari ruptur perineum atau robekan pada jalan rahim, ia mengangguk dan mulai merasakan sakit lagi, pria itu kembali dan membawa barang-barang yang kuminta. Kemudian ia duduk disamping istrinya.

“bapak boleh membantuku untuk mengarahkan ibu mengatur pernafasannya dan bantu ibu untuk tetap santai setiap kali rasa sakit datang” kataku mengarahkannya.

 

~~~***~~~

 

Masha terbangun dan mendapati mobil dalam keadaan menyala dengan AC mobil yang dikecilkan. Ia memanggil dan mencari Hera, dibukanya sedikit kaca jendela mobil, suasana gelap. Ia berpindah ke kursi driver menyalakan lampu depan mobil, mencoba mengetahui suasana diluar mobil. Perasaan takut menghampirinya, ia mengenali rumpun-rumpun semak yang mendominasi sepanjang jalan. ia yakin berada di daerah yang paling tak ingin disinggahi banyak orang di Ketapang. Padang Dua Belas.

 

Tamat…

 

Comments

Popular posts from this blog

Padang Dua Belas, Kota Ghaib nan Megah (bag.1)

G A N J I L (bag.4)

G A N J I L (end)