Padang dua Belas, Kota Megan yang Ghaib (bag.2)

Padang Dua Belas kab Ketapang Kalimantan Barat

 


Kusampaikan niatku pada Masha melewati ponsel, semoga ia tak keberatan untuk menemaniku ke Kendawangan,  ternyata ia masih di Kampung Kaum, daerah para Syarif-syarif dan keturunan para raja, di Ketapang.

Pukul 14.14 aku sampai di Nevada Hotel, berbeda dengan Kayong Utara, Ketapang jauh lebih Ramai dan agak padat pemukimannya. Sayangnya sungai Pawan yang indah tidak dikelola dengan baik seperti Kapuas di Pontianak, Sungai Pawan dipenuhi Bangunan-bangunan tinggi yang sengaja dibuat oleh penangkar burung wallet, agar burung wallet bersedia tinggal dan membuat sarang-sarang di dalam bangunan. Sarang-sarang itu dibuat oleh burung wallet dengan air liurnya yang berharga.

Aku sebenarnya lelah, perjalanan dari Telok Batang yang rusak ternyata tidak separah jalan Sukadana menuju Ketapang, tepat di wilayah Taman Nasional Gunung Palung kerusakan jalan jauh lebih parah dari sebelumnya. Aku harus berpegangan erat agar tidak menggeser dan tergeser posisi dudukku dengan penumpang lain atau melompat-lompat di dalam mobil travel. Aku tak bisa menikmati keindahan gunung Palung yang tampak biru dari kejauhan, sekilas saja barisan-barisan gunung kecil seperti mengelilingi satu gunung besar yang gagah itu, indah sekali.

Lelah ini sedikit berkurang jika mengingat aku akan segera menemui dua kakak kandungku. Bagaimana rupa mereka ya. Tara dan Rama.

Aku kemudian masuk dan duduk di loby hotel. Sedikit mengademkan diri, sambil menunggu Masha. Ponselku berdering, dr. Radhit. Seketika hatiku berdebar, mengingat aku tak pernah mengabarinya tentang perihal keberangkatan ku ke Kalimantan. Kucoba menarik nafas dan menenangkan detak jantungku sebelum mengaktifkan ikon telpon berwarna hijau yang melompat-lompat di dalam layar.

“Assalamu’alaikum dokter” sapaku lebih dulu.

“wa’alaikumsalam Hera, ayahmu sudah bercerita tentang semua, apa kau mau aku temani.” Tawarnya.

“tidak dokter terimakasih, insyaallah jika sudah menemui dua kakak ku hari ini, besok aku pulang lewat penerbangan dari Ketapang saja.” Tolakku dengan halus, aku jelas senang jika ia menemaniku, tapi aku tau batasan.

“kau yakin Hera, izinkan aku menjemputmu ya” pintanya lagi. “share kan aku lokasi terakhir mu ya.” Haaa…aku harus bicara apa sekarang. Perasaanku tak karuan.

“hanya sampai besok dokter. Setelah itu aku pulang.” Tolakku lagi.

“ia dokter nanti aku yang share alamat hotel ini, dokter bisa menunggu kami disini. Setelah dari Kendawangan kami akan menginap disini lagi, sebelum Hera berangkat pulang ke Jakarta, dokter bisa menemaninya nanti, oh iya… aku Masha dokter, teman Hera” Masha memotong pembicaraanku dengan dr Radith. Iya tersenyum mengejek setelah memotong pembicaraanku, dasar Masha. Aku bingung untuk menolak lagi.

“baiklah. Terima kasih ya. Aku tutup telponnya Hera, hati-hati di perjalanan, jaga dirimu” pesan dr Radith.

“iya dokter, Assalamualaikum” jawabku mengakhiri pembicaraan.

“kamu Sha, sembarang aja kalau motong obrolan orang” kesal ku pada Masha.

“aku mempermudah orang yang ingin menolong mu dan merindukan mu, aku baik tau.” Jawab Masha sambil mengejekku. Udah ayo kita berangkat udah kesorean nih. Dari sini kesana makan waktu kurang lebih 5 jam. Aku sudah mencarter mobil. Ayo kita jalan.” Ajaknya lagi.

“aku lapar Sha, ajak aku makan dulu kenapa” cemberut ku.

Kemudian ia menunjukkan sekantung penuh mie instan dalam kemasan cup padaku, “ini bahan bakar kita dr Hera, jika kau mau silahkan…” ia mengejekku kembali.

 

Bersambung …

Comments

Popular posts from this blog

Padang Dua Belas, Kota Ghaib nan Megah (bag.1)

G A N J I L (bag.4)

G A N J I L (end)